Persepsi (1)

Bersyukurlah kita yang masih bisa berkumpul bersama keluarga terutama orang tua. Karna sebagian kita mungkin merindukan keadaan itu. 

Minggu ini gue sudah 2 kali ga bisa kontrol pasien orto, bukan karena izin sekolah ataupun orangtua, tapi teman-teman pramukanya yang melarang gue menjemput salah satu anggota terbaiknya karna harus latihan baris-berbaris. 

Gue sangat iri sama mereka saat masalah terbesarnya hanyalah bagaimana memenangkan lomba PBB, bukan masalah pelik rumit kehidupan.
Persepsi mereka berbeda.

Gue dlu slalu mikir 2 kali kalau disuruh bayar apapun buat pendidikan, mencari segala pembenaran palsu biar ga jadi bayar, sedangkan buat game gue ga pernah pikir panjang. Bapak-Ibu pembaca skalian pasti sering begini.
Kadang kita tau prioritas mana yang lebih penting, hanya ego selalu terdengar lebih nyaring dan melegakan sehingga memutar-balikkan benar dan salah tentang persepsi.

Problema yang selalu menjadi pertentangan publik adalah kepastian. Semua orang ingin hal yang pasti. Jelas. Padahal ketidakpastian adalah sesuatu yang pasti, selama kita percaya Pencipta, selama kita percaya kuasa-Nya, masih beranikah kita memastikan sesuatu?
Karna menurut gue selama itu berkaitan dengan sesuatu kejadian di dunia yang belum terjadi, maka dimensi yang ada hanyalah ketidakpastian. Karna jalur yang paling relevan untuk kita lewati cuma berusaha dan berdoa.

Komitmen hanyalah frasa kata-kata tanpa makna sampai itu telah dibuktikan.
Janji hanyalah kepastian ilusi. Bahkan kita selalu di ajarkan untuk mengucapkan Insya Allah yang artinya Bila Tuhan Mengijinkan, suka tidak suka kita memang memiliki keterbatasan sebagai makhluk yang sombong.

Teman-teman paruh baya gue terlebih yang perempuan sudah memasuki masa puber kedua, yap. Minta kawin.

Sebagian orang memilih untuk berumah tangga sebagai prioritas, sebgian lagi memilih untuk merawat orang tua sebagai prioritas.

Kata temen gue benar salah itu tergantung persepsi, dan persepsi dipengaruhi keadaan.
Buat apa menilai seorang nelayan padahal kita hanyalah petani.
Berhentilah memaksakan benar mu pada orang lain, hormatilah setiap pendapat orang lain, karna pendapat seseorang itu mungkin berasal dari pengalaman yang tidak mengenakkan, keadaan yang sulit dan akhirnya menjadi sebuah pemikiran yang sulit kamu pahami. Gue yakin tiap orang hanya ingin merasa nyaman untuk pilihannya. Persepsi karena adaptasi.

Makin kesini gue semakin terbuka dengan pendapat orang sekitar, lebih tertarik melihat alasan ketimbang jawaban. Persis seperti membaca buku, jika hanya membaca sinopsisnya tentu tidak semenarik memahani isi didalamnya.

Karna menurut gue yang terpenting adalah memahami alasan, bukan jawaban.




by: Sileo

4 Masukan: